, ,

Harga Daging Ayam di Tasikmalaya Catat Rekor Tertinggi

Harga Ayam di Tasikmalaya Melambung Tinggi, Pedagang dan Konsumen Keluhkan Rekor Terbaru

Diskusi Tasikmalaya- Suasana pasar di Kota Tasikmalaya belakangan ini diwarnai oleh keluhan dari para pedagang dan pembeli. Penyebabnya? Harga daging ayam yang tiba-tiba meroket naik dan catat rekor tertinggi dalam kurun waktu terakhir. Kenaikan yang signifikan ini membuat banyak pihak, dari penjual hingga ibu-rumah tangga, harus mengencangkan ikat pinggang.

Harga Daging Ayam di Tasikmalaya Catat Rekor Tertinggi
Harga Daging Ayam di Tasikmalaya Catat Rekor Tertinggi

Baca Juga : Tragedi Dini Hari di Singaparna, Ledakan di Kampung Borolong Picu Kepanikan

Berdasarkan pantauan dari sejumlah pedagang, harga ayam kini berkisar antara Rp42.000 hingga Rp43.000 per kilogram. Angka ini jauh melampaui harga normal yang biasanya bertahan di level Rp35.000 – Rp36.000 per kg. Kenaikan yang mencapai Rp6.000 per kg ini terasa sangat memberatkan dan mempengaruhi daya beli masyarakat.

Bahkan pedagang seperti Irfan, yang dikenal karena selalu menjual dengan harga lebih murah karena mengambil barang langsung dari peternak, terpaksa menaikkan harga jualnya. “Biasanya saya bisa jual di harga Rp30.000 atau maksimal Rp34.000. Baru kali ini dalam sejarah saya jual sampai Rp38.000 per kg,” ujar Irfan, seorang pedagang keliling, dengan nada heran. “Ini rekor tertinggi untuk saya.”

Lalu, apa yang sebenarnya memicu kenaikan drastis ini?

Menurut Irfan dan rekan-rekan pedagang lainnya, ada dua faktor utama yang menjadi pemicu melonjaknya harga ayam:

  1. Program MBG (Makan Bareng Gratis): Program sosial yang sedang digencarkan oleh berbagai pihak menyebabkan permintaan ayam melonjak secara masif. Dapur-dapur MBG memborong stok ayam dalam jumlah yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan acara, sehingga menyedot supply dari pasar reguler.

  2. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW: Menjelang peringatan Maulid Nabi, tradisi masyarakat Tasikmalaya yang kuat adalah mengadakan berbagai hajatan, baik secara perorangan maupun dalam bentuk pengajian dan selamatan skala besar. Daging ayam, yang menjadi lauk primadona dan mudah diolah untuk jumlah banyak, otomatis menjadi incaran utama. “Kalau tiba muludan, permintaan memang selalu naik. Banyak yang hajat, otomatis stok di pasar jadi berkurang,” jelas Irfan.

Hukum Pasar yang Tak Terelakkan

Fenomena ini adalah contoh klasik dari hukum permintaan dan penawaran. Permintaan (demand) yang meningkat tajam secara tiba-tiba, tidak diimbangi dengan penambahan pasokan (supply) yang memadai, sudah pasti akan mendorong harga naik. Peternak dan distributor kesulitan untuk langsung menyesuaikan produksi dalam waktu singkat, sehingga gejolak harga pun tak terhindarkan.

Dampak Langsung ke Lapangan

Konsekuensi dari kenaikan ini langsung dirasakan di tingkat pedagang kaki lima. Irfan mengaku bahwa omzet penjualannya menurun. Banyak konsumen yang mengernyitkan dahi melihat harga dan memilih untuk membeli lauk pauk alternatif seperti telur, tempe, atau ikan sebagai pengganti. “Dampaknya ke saya, penjualan jadi turun. Banyak yang akhirnya nggak jadi beli,” keluhnya.

Harapan ke Depan

Para pedagang dan konsumen sama-sama berharap bahwa situasi ini hanya bersifat sementara. Mereka mendambakan harga ayam dapat segera stabil dan kembali ke angka yang normal pasca berakhirnya gelombang permintaan tinggi dari program MBG dan perayaan Mauludan. Stabilisasi harga sangat penting untuk mengembalikan daya beli masyarakat dan menjaga kelancaran usaha para pedagang kecil.

Dengan demikian, lonjakan harga ayam di Tasikmalaya ini bukan sekadar angka, tetapi cerita tentang bagaimana dinamika sosial, budaya, dan ekonomi saling berkait dan langsung mempengaruhi kehidupan sehari-hari warga.

Dior

No More Posts Available.

No more pages to load.